Rabu, 12 Agustus 2015

Pancasila dan Soekarno



Pancasila dan Soekarno

         Dalam berbagai buku tentang Pancasila sering dikatakan bahwa penggali atau pencipta Pancasila adalah Sukarno. Dua istilah itu bukannya tidak tepat, tetapi saya lebih cenderung untuk menggunakan kata penemu atau perumus karena Pancasila bukan hanya hasil galian dari nilai-nilai yang pernah ada di bumi Nusantara tetapi juga mendapatkan masukan dari nilai-nilai yang terkandung, antara lain, dalam Declaration of Independences tetapi juga dari Manifesto Komunis. Oleh sebab itu kita sering mendengar bahwa Pancasila lebih baik (sempurna, lengkap) daripada keduanya.
Sementara ini, ada beberapa pihak, di antaranya Prof Moh Mahfud MD, Ketua MK, mengatakan bahwa Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945 bukan hanya karya Sukarno sendiri, melainkan sebuah karya bersama. Pernyataan ini termuat dalam ”Proceeding Konggres Pancasila 2009” di UGM Yogyakarta, hlm 29 dan 30. Mahfud MD mengatakan bahwa Pancasila yang berlaku sekarang merupakan hasil karya bersama dari berbagai aliran politik yang ada di BPUPKI yang kemudian disempurnakan dan diserahkan oleh PPKI pada saat negara didirikan.
Dengan demikian Mahfud MD membuka babak baru dalam dialog wacana siapa sebenarnya Penggali Pancasila. Pada era Orde Baru juga pernah muncul wacana bahwa penggali atau penyusun (istilah yang lazim digunakan) Pancasila adalah bukan Sukarno, melainkan ada banyak orang, bahkan ada yang mengatakan hanya satu orang (tetapi bukan Sukarno), yakni Moh Yamin.
Dari mana kita tahu bahwa penemu dan perumus tunggal Pancasila adalah Sukarno? Pertama, dari Bung Karno sendiri. Pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945 ia mengatakan: Maaf, beribu maaf. Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidatonya mereka itu, diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua, yaitu bukan dasarnya Indonesia merdeka. Menurut anggapan saya (Bung Karno), yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah dalam bahasa Belanda Philosofische grondlag, daripada Indonesa merdeka.
Saksi-saksi lain yang menguatkan bahwa Pancasila hanya temuan Bung Karno adalah Bung Hatta, Ahmad Subardjo, KH Masykur, dan bahkan Muhammad Yamin sendiri. Bung Hatta bahkan dengan tegas  mengatakan bahwa Muhammad Yamin memalsukan sejarah seolah-olah ia pernah berpidato pada 29 Mei 1945 yang isi pidatonya antara lain mengusulkan sila-sila Pancasila dan yang rumusannya mendekati rumusan Pancasila 18 Agustus 1945 (untuk lebih lengkapnya baca Pancasila Sukarno 2007).
Sementara itu dari buku yang disusun oleh panitia Seminar Pancasila dalam Seminar Pancasila ke-1, 16 s.d. 20 Februari 1959, Muhammad Yamin mengatakan, ”Menurut sejarah dan kenyataannya, maka Pancasila, ialah penggalian Bung Karno. Pancasila sebagai penggalian Bung Karno adalah sesuai pula dengan pemandangan tujuan hidup Neo-Hegelian.”

Pancasila memang hasil pekerjaan PPKI. Tetapi harus diingat, arti kata pekerjaan ini bisa diartikan sebagai hasil editing dari PPKI yang diketuai oleh Sukarno sendiri. Dikatakan hasil editing karena memang tidak ada substansi yang berubah. Anggota-anggota PPKI hanya membuat tata urutan dan redaksi yang berbeda dari rumusan Pancasila Satu Juni yang kemudian diedit menjadi rumusan Pancasila 22 Juni 1945. Tabel terlampir kiranya akan mempermudah untuk melihat aliran substansi dari teks atau rumusan Pancasila.
Dari tabel itu dapat dilihat bahwa substansi rumusan Pancasila 1 Juni dari Sukarno sampai rumusan PPKI 18 Agustus 1945 tidak mengalamai perubahan. Yang berubah hanya tata urutan dan redaksi dari masing-masing sila. Dengan demikian Pancasila bukan merupakan karya bersama melainkan sebuah karya tunggal (hasil penemuan dan rumusan) Sukarno. Peranan anggota PPKI (termasuk Sukarno sebagai ketuanya) pada waktu itu adalah sebagai redaktur atau editor. Jadi Sukarno selain penemu dan perumus, ia juga sebagai editor (bersama yang lain) atas temuan atau rumusannya sendiri.
Tidak mungkin terdapat rumusan Pancasila 18 Agustus 1945 tanpa ada terlebih dahulu rumusan Pancasila pada 1 Juni 1945. Tidak mungkin ada rumusan Sila Persatuan Indonesia (18 Agustus 1945) tanpa terlebih dahulu ada rumusan sila Kebangsaan Indonesia (Satu Juni 1945), tidak mungkin ada rumusan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (18 Agustus 1945) tanpa ada terlebih dahulu rumusan sila Internasionalisme atau Perikemanusiaan (Satu Juni 1945), tidak mungkin ada Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan/Perwakilan (18 Agustus 1945) tanpa terlebih dahulu ada rumusan sila Mufakat atau Demokrasi (satu Juni 1945), tidak mungkin muncul rumusan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (18 Agustus 1945) tanpa terlebih dahulu ada rumusan Kesejahteraan Sosial (Satu Juni 1945), dan tidak mungkin pula akan muncul rumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa (18 Agustus 1945) tanpa terlebih dahulu ada rumusan sila Ketuhanan (dalam Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945).
Jadi, 18 Agustus bukan hari disusun dan dirumuskannya Pancasila, melainkan hari diresmikannya Pancasila (yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945) sebagai dasar negara kita.  Hari kelahiran Pancasila tetap Satu 1 1945 dan penyusun serta perumus tunggalnya adalah Bung Karno. Pancasila pada 18 Agustus 1945 substansinya sama dengan Pancasila 1 Juni 1945.
*)Ign Gatut Saksono adalah pengamat  Pancasila.

Organisasi Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang



Organisasi Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang

Organisasi Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang Pada bulan Januari 1942 Jepang menduduki Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Malaysia pada waktu itu dikuasai Sekutu berhasil direbut Jepang. Pada tanggal 24 Januari 1942 Jepang menduduki Tarakan, Balikpapan, dan Kendari. Balikpapan merupakan sumber-sumber minyak maka diserang dengan hati-hati agar tetap utuh, tetapi dibumihanguskan oleh tentara Belanda. Tanggal 3 Februari 1942 Samarinda diduduki pasukan Jepang. Pada waktu itu Samarinda masih dikuasai tentara Hindia Belanda (KNIL). Dengan direbutnya lapangan terbang oleh Jepang, maka tanggal 10 Februari 1942 Banjarmasin dengan mudah dapat diduduki. Pada tanggal 4 Februari 1942 Ambon berhasil diduduki Jepang, kemudian dilanjutkan pada tanggal 14 Februari 1942 menguasai Palembang dan sekitarnya. Dengan jatuhnya Palembang maka dengan mudah Jepang masuk ke Jawa. Dalam penyerbuan-penyerbuan itu Jepang lebih kuat dibanding Sekutu karena Jepang memiliki bantuan kekuatan udara taktis. Sedangkan kekuatan udara Sekutu sudah dihancurkan dalam pertempuran-pertempuran awal di Indonesia maupun Malaya (Malaysia). Berikut ini Organisasi Organisasi Semi Militer Bentukan Jepang:

Seinendan (Barisan pemuda)
Seinendan merupakan organisasi pemuda yang dibentuk pada tanggal 29 April 1943, tepat pada hari ulang tahun Kaisar Jepang. Seinendan merupakan organisasi kepemudaan yang bersifat semimiliter. Organisasi tersebut langsung berada di bawah pimpinan gunseikan. Tujuan pembentukan organisasi tersebut adalah untuk mendidik dan melatih pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Namun, sebenarnya maksud tersembunyi pembentukan organisasi tersebut adalah untuk mendapatkan tenaga cadangan sebanyak-banyaknya yang diperlukan bagi kemenangan perang Jepang.
Pada awalnya, Seinendan beranggotakan pemuda-pemuda Asia yang berusaia antara 15-25 tahun. Namun, usia anggotanya kemudian diubah menjadi 14-22 tahun. Pada awalnya anggota Seinendan sebanyak 3.500 orang yang berasal dari seluruh Jawa. Jumlah tersebut berkembang menjadi 500.000 orang pemuda pada akhir masa pendudukan Jepang.
Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)
Keibodan juga merupakan organisasi pemuda yang dibentuk bersamaan dengan pembentukan Seinendan. Berbeda dengan Seinendan, dalam pembentukan Keibodan tersebut tampak bahwa pemerintah pendudukan Jepang berusaha agar tidak terpengaruh oleh golongan nasionalis. Bahkan kaum nasionalis pada tingkat bawah pun tidak mempunyai hubungan dengan Keibodan, karena badan ini langsung ditempatkan di bawah pengawasan polisi. Selain Jawa, kedua badan tersebut juga dibentuk di Sumatra dan daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan angkatan laut. Di Sumatra, Keibodan dikenal dengan nama Bogodan. Di Kalimantan terdapat badan serupa yang disebut Borneo Konan Hokokudan. Selain golongan pemuda, juga dilakukan pengorganisasian kaum wanita. Pada bulan Agustus 1943 dibentuk Fujinkai (himpunan wanita). Usia minimum dari anggota Fujinkai adalah 15 tahun. Wanita-wanita tersebut juga diberikan latihan-latihan militer.
Syuisyintai (Barisan Pelopor)
Barisan Pelopor dibentuk pada tanggal 1 November 1944. Organisasi semimiliter ini dibentuk sebagai hasil keputusan sidang ketiga dari Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat. Barisan Pelopor dipimpin oleh Ir. Soekarno. Sedangkan wakilnya yaitu R.P. Suroso, Otto Iskandardinata dan dr. Buntaran Martoatmojo. Tokoh nasionalis yang duduk dalam Barisan Pelopor berusaha memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menanamkan semangat nasionalisme di kalangan para pemuda. Para pemuda dikerahkan untuk mendengarkan pidato para tokoh nasionalis. Di dalam pidatonya, para tokoh nasionalis selalu menyelipkan kata-kata untuk membangkitkan semangat cinta tanah air di kalangan para pemuda.
Fujinkai (Barisan Wanita)
Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas wanita yang berumur 15 tahun ke atas. Tugas Fujinkai adalah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib berupa perhiasan, hewan ternak, dan bahan makanan untuk kepentingan perang.
Hizbullah
Pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (tentara Allah) yang dalam istilah Jepangnya disebut Kaikyo Seinen Teishintai. Hizbullah mempunyai tugas pkok, yaitu sebagai berikut :
  • Sebagai tentara cadangan dengan tugas dan program, antara lain : melatih diri, jasmani maupun rohani dengan segiat-giatnya.; membantu tentara Dai Nippon; menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh; menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepentingan perang.
  • Sebagai pemuda Islam dengan tugas dan program, antara lain : menyiarkan agama Islam, memimpin umat Islam agar taat menjalankan agama Islam, dan membela agama dan umat Islam Indonesia.[gs]

Asal Usul Sejarah Bendera Merah Putih



 Asal Usul Sejarah Bendera Merah Putih

Berbicara tentang asal usul sejarah bendera merah putih berarti juga berbicara tentang awal berdirinya Indonesia yang mencoba lepas dari jajahan Belanda pada masa itu. Bendera merah putih milik Indonesia melambangkan keberanian dan kesucian. Bendera yang juga disebut sang Saka Merah Putih ini dijahit oleh istri Soekarno yang bernama Fatmawati, dan pertama kali dikibarkan sesaat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Soekarno.
Sejarah Bendera Merah Putih
Sebelum masa kolonialisme berlangsung, sejarah bendera merah putih sudah pernah ditorehkan oleh kerajaan-kerajaan kuno Indonesia pada masa itu. Beberapa orang percaya bahwa Sang Saka Merah Putih diambil berdasarkan warna kerajaan Majapahit. Selain itu moto nasional juga dipercaya merupakan saduran dari puisi Jawa kuno berjudul “Kakawin Sutasoma” yang ditulis oleh Mpu Tantular dari Majapahit. Sebelum Majapahit, dikabarkan bahwa ada bendara merah putih yang dikibarkan pada tahun 1292 dimana saat itu terjadi perang antara Jayakatwang melawan Kertanegara.

Penggunaan bendera merah putih di Kerajaan Majapahit tertulis dalam buku karangan Mpu Prapanca yang berjudul Negarakertagama dimana pada buku tersebut diceritakan bahwa bendera merah putih sudah menjadi benda sakral yang selalu digunakan setiap ada upacara hari kebesaran raja Hayam Wuruk saat ia berkuasa di tahun 1350 hingga 1389. Mpu Prapanca juga berpendapat bahwa bagi Majapahit, warna merah dan putih adalah warna yang mulia. Hal ini ia simpulkan karena gambar yang ada pada kereta milik para raja yang menghadiri upacara-upacara besar selalu dihiasi dengan gambar berwarna merah.
Selain Majapahit dan Singosari, bendera perang yang dimiliki Sisingamangaraja IX yang berasal dari Batak juga memilih warna merah putih sebagai panji perangnya, dimana bentuknya adalah bendera dengan latar warna merah dan putih, serta pedang ganda yang juga berwarna putih. Dua pedang yang digambarkan pada bendera tersebut melambangkan pusaka milik keturunan Sisingamangaraja, yaitu Piso Gaja Dompak.
Sejarah bendera merah putih pra-penjajahan Belanda terjadi juga di Aceh dimana ketika itu para pejuang aceh menggunakan bendera berwarna merah putih dengan corak pedang, matahari, bulan sabit, ayat suci Qur’an, dan matahari. Di Bugis, bendera merah putih mereka kenal dengan nama Woromporang dan merupakan simbol kebesaran dan kekuasaan kerajaan mereka. Begitu juga saat perang Diponegoro yang saat itu menggunakan bendera merah dan putih saat melawan Belanda pada tahun 1825 hingga 1830.
Di Minangkabau, terdapat sebuah Kitab Tembo Alam, dimana kitab tersebut merupakan salinan tahun 1840 dari kitab yang sudah lebih berumur. Kitab tersebut menuliskan bahwa bendera alam Minangkabau juga memiliki warna dasar merah dan putih, ditambah dengan warna hitam. Konon bendera ini adalah peninggalan kerajaan Minangkabau di abad ke-14 saat diperintah oleh Maharaja Adityawarman. Warna merah adalah warna hubalang, menggambarkan orang-orang yang menjalankan perintah. Warna putih adalah warna agama yang menggambarkan para alim ulama. Dan warna hitam adalah warna adat Minangkabau, yang melambangkan penghulu adat Minangkabau.
Zaman Penjajahan
Pada Oktober 1908, Budi Utomo sebagai gerakan nasionalis pertama dibentuk, dan menyusul 4 tahun kemudian dibentuklah Sarekat Islam sebagai gerakan massa pertama yang terbentuk. Pada bulan Desember 1912, Sarekat Islam sudah memiliki lebih dari 90.000 anggota, dimana jumlah yang sangat banyak ini membuat Belanda ketakutan dan melakukan opresi besar-besaran terhadap gerakan-gerakan nasionalis yang memiliki banyak anggota. Para pemimpin dari gerakan-gerakan nasionalis tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang yang telah menuntut ilmu di Belanda dan diracuni dengan bumbu-bumbu manis kemerdekaan ala barat. Pada masa ini, komunis-komunis Indonesia juga melihat kesempatan dan membuat gerakan nasionalis mereka sendiri.
Penekanan besar-besaran akan gerakan nasionalis ini berujung dengan penangkapan banyak figur-figur yang nantinya berpengaruh besar kepada merdekanya Indonesia seperti penangkapan Soekarno pada 29 Desember 1929 bersama Mohammad Hatta, dan juga Sutan Sjahrir yang nantinya menjadi perdana mentri pertama Indonesia. Soekarno sempat dilepaskan pada bulan Desember 1931, namun kembali ditangkap pada tanggal 1 Agustus 1933 oleh Belanda.
Pada tahun 1928, bendera merah putih yang dulu sempat digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia kembali dihidupkan oleh para pelajar dan nasionalis di awal abad ke-20. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk protes dan ekspresi nasionalisme melawan Belanda. Pengibaran bendera merah putih ini pertama kali terjadi di pulau Jawa pada tahun 1928, dimana saat itu Indonesia masih dalam penjajahan Belanda, dan pengibaran bendera tersebut dilarang oleh para tentara Belanda.
Pada tahun 1940, Jepang menginvasi Indonesia dan serentak mengusir Belanda dari seluruh pelosok negeri. Baru pada bulan Maret tahun 1942, seluruh pasukan Belanda diusir dari Indonesia. Invasi Jepang ini juga kembali menyalakan api nasionalisme dari gerakan-gerakan yang tadinya ditekan habis-habisan oleh Belanda untuk kembali berjaya. Pada tahun 1945, pihak Jepang membuat sebuat komite yang bernama BPUPKI untuk mengatur kemerdekaan Indonesia, dan di pertemuan pertama tersebut Soepomo membicarakan tentang integrasi nasional. Pada bulan Agustus di tahun yang sama, Soekarno dan Hatta diterbangkan untuk bertemu Hisaichi Terauchi yang mengabarkan kemerdekaan akan diberikan pada tanggal 24 Agustus.
Sejarah bendera merah putih baru kembali berlanjut dengan kalahnya Jepang dan diproklamasikannya kemerdekaan oleh Soekarno pada 17 Agustus. Pada proklamasi kemerdekaan Indonesia inilah, bendera pusaka merah putih pertama kali berkibar selama sehari semalam. Bendera ini dijahit oleh istri Soekarno yang bernama Fatmawati dengan dasar desain bendera Majapahit yang memiliki sembilan garis merah dan putih. Hingga kini, bendera pusaka ini masih terus diikut sertakan setiap ada upacara kemerdekaan meskipun tidak lagi dikibarkan.
Sekian dulu ya ulasan singkat mengenai kisah sejarah bendera merah putih, semoga artikel yang kami berikan dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita semua tentang sejarah serta menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi terhadap sebagai warga negara Indonesia. Terima kasih telah mengunjungi Kumpulan Sejarah.

Nagasaki dan Hiroshima



NAGASAKI DAN HIROSHIMA

Inilah pengertian dan keadaan kedua kota besar jepang yaitu Nagasaki dan Hiroshima, yang menjadikannya pertimbangan Amerika mengapa kota ini menjadi sasaran bom atom mereka pada perang dunia ke 2.

Nagasaki
Nagasaki (長崎市; -shi) adalah ibu kota dan kota terbesar di Prefektur Nagasaki yang terletak di pesisir sebelah barat daya Kyushu, Jepang. Lokasi geografisnya adalah 32°44′ LU 129°52′ BT. Nagasaki adalah pusat pengaruh Eropa di Jepang pada zaman pertengahan. Kota Nagasaki yang merupakan kota pelabuhan di Jepang merupakan kota yang tidak terisolasi pada waktu jepang menerapkan politik Isolasi(SAKKOKU). Pengaruh Eropa juga sangat terlihat dengan pesatnya perkembangan agama kristen di kota Nagasaki pada zaman tersebut dan banyaknya peninggalan bersejarah berupa bangunan-bangunan Gereja yang masih terawat hingga saat ini dan dijadikan sebagai obyek wisata.
Kota Nagaski juga merupakan kota kedua di mana bom atom dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Di kota ini juga dibangun Musium Bom Atom Nagasaki (Nagasaki Genbaku Shiryoukan) sebagai lambang peringatan bagi bangsa jepang dan seluruh pengunjung akan bahaya dan penderitaan akibat bom atom yang diledakkan di kota tersebut.
Nagasaki terletak di ujung teluk yang panjang yang membentuk pelabuhan alami terbaik di pulau selatan Jepang Kyushu. Kawasan perdagangan utama dan wilayah pemukiman di kota ini terletak di dataran kecil dekat ujung teluk. Dua sungai yang dibelah oleh sebuah gunung membentuk dua lembah utama di mana kota ini terletak. Wilayah pusat kota ini dibatasi oleh “terrain” tidak lebih dari 4 mil persegi dari total sekitar 35 mil persegi kota ini secara keseluruhan. Pada 2003, kota ini memiliki populasi sebesar 418.901 jiwa dan kepadatan penduduk 1.736,74 orang per km². Luas wilayah totalnya adalah 241,20 km².

Hiroshima
Hiroshima (広島市 ,Hiroshima-shi?) adalah kota di Jepang, tepatnya di bagian barat Prefektur Hiroshima, bagian selatan wilayah Chugoku, barat daya pulau Honshu. Pada zaman dulu merupakan ibu kota Provinsi Aki dan sekarang merupakan ibu kota Prefektur Hiroshima. Hiroshima adalah kota pelabuhan di tepi Laut Pedalaman Seto yang dikenal sebagai pusat industri tekstil dan barang-barang dari karet. Kota ini didirikan pada abad ke-16 sebagai kota istana di delta Sungai Ota.

            Hiroshima adalah kota pertama di dunia yang pernah dijatuhi bom atom di akhir Perang Dunia II, 6 Agustus 1945. Sekarang, Hiroshima terkenal di dunia sebagai kota perdamaian. Monumen Perdamaian Hiroshima (Genbaku Dome) terletak di pusat kota Hiroshima.Hiroshima secara harafiah berarti “pulau luas.” Pada waktu itu istana didirikan di tengah pulau (daratan) yang paling luas di tengah-tengah delta sungai. Nama “Hiroshima” mungkin berasal dari nama-nama tokoh yang dulunya mendirikan kota Hiroshima. “Hiro” diambil dari nama Ōe Hiromoto (nenek moyang klan Mōri), sedangkan “shima” diambil dari nama Fukushima Motonaga yang memimpin pembangunan konstruksi istana.
Hiroshima merupakan kota utama di wilayah Chugoku. Pada zaman Edo, Hiroshima merupakan kota di sekeliling istana untuk Han Hiroshima. Sejak zaman Meiji hingga berakhirnya Perang Dunia II, Hiroshima merupakan pusat industri militer dan logistik untuk keperluan perang. Di antara produk kebanggaan kota Hiroshima adalah mobil Mazda, makanan ringan merek Calbee dan saus merek Otafuku. Tim bisbol kebanggaan penduduk kota Hiroshima adalah Hiroshima Carp. Tim tersebut pernah menjadi juara Central League sebanyak 6 kali dan juara Japan Series sebanyak 3 kali.